Sekitar dua dekade terakhir ini, sistem pendanaan sebuah proyek atau usaha oleh banyak orang mulai jamak dilakukan. Metode ini disebut dengan crowdfunding.

Apa itu crowdfunding dan apa bedanya dengan penggalangan dana konvensional?

Sebenarnya, tujuan keduanya sama, yaitu mencari pendanaan untuk proyek seni, amal, bantuan sosial, termasuk riset ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun, dalam crowdfunding, ada unsur penekanan pada khalayak ramai, dan crowdfunding sekarang ini sering digunakan untuk hal-hal yang tadinya tidak lazim didanai publik.

Sebagai contoh, proyek rekaman musik. Konon, pendanaan proyek semacam itu bersumber dari hibah (grant) atau seorang penanam modal yang tentunya berharap untuk mendapatkan keuntungan dari kegiatan investasinya itu. Di sini sudah jelas bahwa pihak yang terlibat tidak banyak.

Sekarang, dengan crowdfunding, pendukung artis tersebut dapat ikut berpartisipasi dalam proyek kreatif si artis.

Penjelasan lebih lanjut mengenai crowdfunding ini akan diberikan dalam bentuk tanya-jawab.

Lho, kalau begitu artinya artis jadi tukang minta-minta?

Tidak benar.

Dalam crowdfunding, ada memberi dan menerima. Proyek yang didanai publik itu memberikan imbalan untuk pendukung yang lazimnya sesuai dengan nilai finansial dukungan.

Beberapa contoh:

  • Proyek rekaman musik dapat menawarkan imbalan sekeping CD untuk dukungan $25.
  • Proyek pendanaan perjalanan untuk presentasi karya ilmiah dapat menawarkan imbalan kartu pos dari negara tempat presentasi untuk dukungan $30.
  • Proyek pembuatan piranti lunak dapat menawarkan lisensi penggunaan untuk dukungan $80.

Apa bedanya dengan proses jual-beli konvensional?

Dalam hal ini, perbedaan antara menyumbang dan membeli menjadi tipis, tapi bukannya sama juga.

Secara konvensional, penjual barang diharuskan memiliki modal dan menghasilkan barang terlebih dahulu.

Dalam model crowdfunding modern, penjual barang dapat mengumpulkan modal lewat crowdfunding dan menghasilkan barang belakangan setelah ia tahu bahwa ada permintaan yang cukup.

Oleh karena itu, kita bisa menganggap pemberian dukungan dalam proyek crowdfunding seperti melakukan pre-order.

Apa bedanya dengan penggalangan dana (fundraising)?

Kalau kita lihat fundraising pada umumnya, pendukung bisa jadi mendapatkan imbalan yang harganya sangat murah dan tidak ada hubungannya dengan proyek yang didanai (misalnya, membeli coklat untuk renovasi fasilitas sekolah), atau malah ada kalanya penyumbang tidak mendapatkan imbalan sama sekali.

Crowdfunding umumnya menyediakan imbalan yang nilainya berkisar di antara jumlah dukungan. Walaupun tidak semua platform mewajibkan penggalang dana untuk menyediakan imbalan, namun secara bawaan, ini bentuk yang paling umum, terutama di bidang seni dan teknologi.

Ah, rasanya kok nggak keren, ya, minta-minta dukungan padahal belum menghasilkan apa-apa? Modal, dong. Gimana bisa bikin produk keren?

Mari kita lihat data dan kenyataan.Anda pasti tahu Don Cheadle, kan, bintang Hollywood yang terkenal memerankan karakter War Machine di berbagai film Avengers? Tahun 2014, dia membuat film Miles Ahead. Selain menjadi sutradara, dia juga menjadi pemeran utama.

Anda tahu bagaimana Don Cheadle mengumpulkan uang lebih dari setengah juta dolar AS untuk pembuatan film itu? Dia menjalankan kampanye crowdfunding di platform Indiegogo! Akhirnya, film itu menghasilkan lebih dari 5 juta dolar AS di box office.

Untuk penggemar musik jazz, Anda tahu musisi Maria Schneider? Tahun 2003, dia menjalankan kampanye crowdfunding di platform ArtistShare untuk albumnya Concert in the Garden yang ujung-ujungnya memenangkan Grammy Awards di tahun 2004. Berarti album ini amat laku, dong?

Di sektor teknologi, pencetak 3-dimensi The Micro didanai kampanye crowdfunding di platform Kickstarter yang berhasil mengumpulkan lebih dari 3 juta dolar AS.

Contoh-contoh itu, kurang keren gimana tuh?

Kalau begitu, crowdfunding itu cara untuk menghubungkan dua pihak yang saling membutuhkan, ya?

Ya! Kadang, setiap orang itu cuma perlu sedikit pertolongan.

Dan, ada yang ingin membantu orang lain, namun ingin membantu untuk tujuan yang jelas dan ingin tahu dengan pasti penerimanya.

Mendukung proyek crowdfunding itu bentuk salah satu untuk mewujudkan hal ini.

Bahkan, tanpa motif bantuan sosial pun, ide-ide cemerlang dapat menjadi kenyataan dengan dukungan khalayak ramai lewat kampanye crowdfunding.

Baik, sekarang saya sudah yakin. Bagaimana caranya saya berpartisipasi dalam proyek crowdfunding?

Mudah sekali. Banyak platform crowdfunding yang beroperasi.

Sebelumnya sudah disebutkan Indiegogo, ArtistShare, dan Kickstarter. Ada juga Pozible, GoFundMe, KitaBisa, dan lain-lainnya.

Selain menjadi pendukung proyek, Anda pun dapat menjalankan proyek Anda sendiri.

Apakah Ade pernah mendukung dan menjalankan proyek crowdfunding?

Ya, dua-duanya.

Izinkan saya untuk berbagai cerita sukses. Tahun 2013, saya menjalankan kampanye crowdfunding di platform Pozible untuk pendanaan album saya yang bertajuk “Ade Ishs Trio”.

Target 3 ribu dolar Australia tercapai, dan saya berhasil merekam album tersebut.

Pada akhir tahun itu, di acara radio ABC Jazztrack, album tersebut dipilih pembaca acara Ivan Lloyd menjadi salah satu album trio piano favoritnya untuk tahun 2013.

Saat ini saya dengan menjalankan kampanye crowdfunding untuk rekaman trio piano saya yang ketiga. Kelompok saya ini pun telah membawakan karya-karya asli saya di berbagai pertunjukan di Melbourne dan di Indonesia. Yang sangat mengesankan bagi kami adalah penampilan kami di Ubud Village Jazz Festival 2018 di Bali.

Saya harap Anda pun dapat ikut berpartisipasi untuk menyukseskan proyek ini. Untuk informasi lebih lanjut dan juga untuk berpartisipasi sambil meraih imbalan eksklusif, silakan kunjungi www.happyjazz.link.

Akhirulkalam, selamat ber-crowdfunding!

Pianis, pencipta lagu, penata musik, dan pemimpin berbagai kelompok musik. Narasumber tetap untuk topik musik di Radio Kita 3ZZZ 92.3FM Melbourne.