AIAV Eratkan Hubungan Australia-Indonesia Melalui Program Bahasa

Menyambut akhir tahun 2020, Australian-Indonesian Association Victoria (AIAV) kembali mengadakan acara gathering tahunan mereka. Acara piknik yang diadakan hari Sabtu siang pertengahan December di Flagstaff Garden itu turut dihadiri oleh Konjen Spica A. Tutuhatunewa berserta beberapa anggota tim KJRI lainnya. Dalam kesempatan ini, AIAV juga mengumumkan anggota dewan pengurus dan komite baru mereka.

Piknik AIAV 2020

Galakkan Program Pengajaran Bahasa Indonesia

Presiden baru AIAV, Nani Pollard, menyampaikan bahwa AIAV tengah merencanakan beberapa program-program baru nan ambisius guna menggalakkan pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia. Menyadari adanya penurunan dalam jumlah sekolah-sekolah yang mengajarkan Bahasa Indonesia, AIAV siap membantu secara finansial sekolah-sekolah umum yang kesulitan biaya untuk mengadakan program pembelajaran Bahasa Indonesia.

Pidato Nani Pollard



“Kebetulan, AIAV bekerjasama dengan Balai Bahasa dan Budaya Indonesia Victoria. Karena saya dulu wakil presiden di situ. Sejak saya menjadi presiden, saya bilang ini tidak boleh terpecah dua. Tapi kita tetap akan menjalankan program bersama, jadi kita saling membantu,” ujar Nani. Dirinya juga berniat untuk mengadakan kerjasama dengan ormas-ormas Indonesia lainnya seperti PERWIRA dan Diaspora Indonesia.

“Di Melbourne, kita sudah tidak bisa sendiri-sendiri. ‘Loe loe, gue gue‘ istilahnya,” tegas mantan pengajar di University of Melbourne itu.

Di bawah kepemimpinan Nani, AIAV berniat meremajakan diri dengan menunjuk anak-anak muda untuk mengambil peran lebih dalam kepengurusan organisasi, terutama untuk newsletter AIAV. Peran anak-anak muda menjadi krusial dalam memastikan agar konten tetap relevan untuk generasi mereka.

“Ini waktunya AIAV go public,” tambah Nani lagi. Wanita kelahiran Jakarta ini juga berpendapat bahwa dengan kedekatan Australia-Indonesia saat ini, pembelajaran Bahasa Indonesia harus semakin ditingkatkan. Mengingat banyak pula perkawinan campuran yang terjadi antara orang Indonesia dan Australia. Dirinya berharap generasi kedua dan ketiga orang keturunan Indonesia tetap dapat berbahasa Indonesia meski sudah tinggal dan menetap di Australia.

Presiden AIAV Nani Pollard memberikan kado perpisahan kepada Konjen Spica

Titik Temu Bagi Komunitas Australia-Indonesia

Para anggota yang hadir di acara sore itu memang sebagian besar pernah berkunjung bahkan tinggal di Indonesia untuk beberapa waktu. Alasan mereka untuk tinggal pun bermacam-macam, mulai dari studi, bekerja, hingga mengungsi.

Salah satunya adalah Azimi, seorang pelarian dari Afghanistan yang pernah mengungsi di Indonesia selama lima tahun sebelum hijrah ke Australia dalam skema humanitarian visa. Azimi mengaku selama tinggal di Indonesia, dirinya sempat belajar berbahasa Indonesia, bahkan dapat menggunakan berbagai bahasa gaul.

“Saya dulu senang nongkrong dengan teman-teman Indonesia, dan bisa juga menggunakan bahasa-bahasa singkatan,” ujar pria yang doyan makanan pedas itu.

Ada pula Rhyll Rivett, anggota dari NGO Nusa Tenggara Association yang bergerak di bidang pendidikan dan pembangunan ekonomi di Indonesia timur, khususnya Flores dan Timor barat.

Konjen Spica A. Tutuhatunewa dalam pidatonya juga menyampaikan apresiasinya kepada AIAV yang telah menjadi komunitas untuk menampung orang-orang Australia yang tertarik dengan Indonesia. Dirinya berharap AIAV dapat terus memfasilitasi hubungan persahabatan antara Indonesia dan Australia.

Komite AIAV dengan KJRI

Apa Kata Mereka

Nina Michaelides

This is probably the first and the last (gathering) for the year. It’s not very nice to see people online and not in dunia nyata. Rencana ketemu-ketemu ini dimulai dalam dua bulan yang lalu, karena ada komite baru. Yang president Ibu Nani dan vice-president Ibu Bea dan sebelas anggota komite yang lain.”

Hillary Mansour

I’m just relieved to see that so many people showed up. The food went well, everyone was happy. It was fantastic to have some representatives from the consulate to join in. It’s great to see that not only students who are participating in our program, but there are also people who are just enthusiastic to reconnect with Indonesian culture. It’s great to see it and I’m so excited to be here.”

Edan Runge

Saya sangat senang untuk menghadiri acara ini, piknik bareng dengan AIAV. Ini acara pertama saya sebagai anggota AIAV. Dan sebetulnya pada tahun ini sangat sulit, baik untuk berkumpul dengan teman-teman AIAV dan juga teman-teman lama seperti mantan guru Bahasa Indonesia saya, Pak Justin. Saya juga tahun depan akan menjadi guru (Bahasa Indonesia) di Marcellin College, mengambil alih dari Mas Zacky karena dia pindah ke Geelong.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Yohan Tangkesalu: Melbourne ke Toraja Kembali Untuk Membangun Negeri

Bekerja untuk membangun negeri, bukan untuk uang  Tidak disangka-sangka bagi Yohan Tangkesalu, pegusaha muda asal Toraja ini, untuk kembali ke Toraja setelah hampir sepuluh tahun...

Perhitungan Poin Visa Skilled Independent (subclass 189)

Pada dua edisi sebelumnya (BUSET Vol. 09-105 Maret 2014, dapat dibaca online lewat situs buset-online.com) kita sudah membahas tentang persyaratan umum untuk aplikasi visa...

IT IS TIME FOR SOUNDSEKERTA 2014

Sejak 2007, setiap tahunnya, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) Monash University mengadakan acara SOUNDSEKERTA. Lewat acara ini, PPIA Monash ingin meningkatkan jiwa nasionalisme...

Hoki di Tahun Kerbau 2021

 Dalam budaya Tiongkok, Kerbau melambangkan ketekunan, kerajinan, kesederhanaan dan kekayaan. Maka dari itu, karakteristik tahun bersimbol Kerbau ialah kita harus kerja lebih tekun rajin...

PEMILU Melbourne SUKSES!

Sabtu pertama April kemarin merupakan hari yang penting bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang sedang berada di Melbourne, dimana masyarakat bersama-sama dapat berpartisipasi dalam...