AGUNG GUNAWAN DAN SACPA DI BUTOHOUT! | EKSPRESI YANG BERBEDA

ButohOUT! Merupakan festival yang digelar untuk membantu membangkitkan komunitas-komunitas lokal di Victoria menggiatkan pertukaran seni dan budaya melalui pertunjukan tari teater dari Jepang bernama Butoh. Bedanya, di festival ini Butoh diintegrasikan ke dalam konteks-konteks berbeda seperti budaya Australia, sejarah, bahkan lanskap. Tak hanya itu, ButohOUT! juga mengundang seniman dari Indonesia, Agung Gunawan, beserta Sapta Agung Centre for Performing Arts(SACPA), dimana seni mereka yang berbeda dengan Butoh mengandung spirit dan landasan yang secara unik seirama.

ButohOUT! sendiri sudah berjalan mulai 26 Februari lalu, dan akan terus menggelar program-program menarik hingga 22 April mendatang mulai dari workshop, forum, dan pastinya pertunjukan-pertunjukan yang menarik. Agung Gunawan dan SACPA menampilkan karya seni tari dan musik mereka yang berjudul Dry Leafsetiap harinya jam 8 malam dari tanggal 19 hingga 21 April, dan diakhiri pada tanggal 22 April jam 5 sore, di Abbotsford Convent.

Agung Gunawan mempelajari tari klasik Yogyakarta di Surya Kencana di bawah RM Ywandjono Suryobrongto dan Ray Sri Kadarjati dan terus mempelajari tari tradisional lainnya seperti Sumatera, Betawi, Kalimantan, dan tari-tari kontemporer dengan seniman multidisiplin, hingga akhirnya Agung seringkali tampil di seluruh benua dan berkolaborasi dengan seniman lokal serta mancanegara.

Agung Gunawan yang awalnya menetap di Prambanan, pindah ke Pacitan setelah menikah dengan Deaslina da Ary atau Desi ke satu desa yang sangat kecil bernama Pelem dimana Desi berasal. Di sana, mereka mengedukasi anak-anak setempat mengenai seni dan praktiknya di kehidupan, meneruskan dan mengembangkan lebih jauh sanggar yang dibentuk oleh Ayah Desi, Bapak Sukarman, bernama LKP Seni Pradapa Loka Bhakti. Dengan pembelajaran seni yang komprehensif dan unik yang tidak hanya sebatas seni tari, namun juga seni musik, seni visual, koreografi, hingga manajemen acara, LKP Seni Pradapa Loka Bhakti seringkali memenangkan penghargaan dan tampil di festival-festival hingga diputuskanlah untuk dibentuknya SACPA untuk mengkonsolidasikan semua program dan festival di bawah satu payung menyeluruh.

Penampilan SACPA di ButohOut! ini merupakan penampilan perdana mereka di Melbourne, membawa kelompok tarinya Breathing Forests Dance Theatre dan kelompok musik gamelan Whiffling of Forests Gamelan Ensemble dibawah arahan Johan Adiyatma Baktiar. Walaupun masih sangat muda, mereka sudah belajar menari dan bermusik bertahun-tahun. Bayangkan saja, penari-penari yang berumur sekitar 18 tahunan sudah belajar menari di LKP Seni Pradapa Loka Bhakti selama 10 tahun. Di bawah bimbingan Agung dan Desi semata tanpa pengajaran dari tempat lainnya, mereka memiliki keunikan ekspresi menari yang independen dan berbeda yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Dry Leaf tercipta setelah proses panjang selama dua tahun yang muncul dari perbincangan-perbincangan Agung Gunawan dengan rekan-rekan seni nya dari Australia diantara lain Dianne Dickson, Tony Yap, dan Takashi Takaguchi. Dianne Dickson, penari dari Rainbow, Victoria, menemukan ketertarikan kepada seni Agung dan Desi, dimana seperti di Pelem, Pacitan, Rainbow merupakan kota yang sangat kecil dan terisolasikan oleh letak geografisnya yang namun justru memberikan karakteristik tersendiri kepada seni-seni mereka.

Dry Leaf itu sendiri terinspirasi oleh pengalaman Agung menetap di Desa Pelem. Dry Leaf adalah ekspresi Agung, dimana hari-harinya jauh dari kota membuatnya bisa lebih fokus terhadap sesuatu. “Alam itu mendidik saya, daun kering itu menjadi perhatian yang istimewa bagi saya. Ketika melihat daun jatuh, ia tidak pernah komplain terhadap suatu hal. Dia hanya ikut pada apa yang digerakkan oleh angin, yang dimaui oleh rantai, bahkan kemauan Tuhan. Dari situ alangkah indahnya kalau kita saling memahami apa yang terjadi di lingkungan kita, untuk tidak selalu ingin mendominasi sesuatu,” ujar Agung.

Tanpa menujukkan seninya untuk mengkritik politik atau sosial, inspirasi dibalik Dry Leaf di sisi lain dapat diaplikasikan ke kehidupan kita sehari-hari. Kita dapat belajar untuk menjadi lebih rendah hati dan mengurangi rasa egoisme dengan belajar dari hal-hal kecil yang dekat dengan kita, seperti daun kering.

 

 

 

 

 

Asa

 

 

 

Discover

Sponsor

Latest

KOPI INDONESIA UNJUK GIGI DI M.I.C.E

Melbourne Internasional Coffee Expo 2014 merupakan acara tahunan yang diadakan Prime Creative Media. Acara ini berlangsung selama empat hari di pertengahan Mei kemarin, dimana...

EXPRESSIONS OF THE SACRED in INDONESIAN ARTS

SENI IRIGASI SUBAK Museum of Indonesian Arts (MIA) adalah satu-satunya organisasi nirlaba di Australia yang berdedikasi untuk menjaga kelestarian seni dan budaya Indonesia. Kalau...

MUDIKA CUP 2015 – 28 MARCH

MUDIKA SPORTS COMPETITION IS HERE REGISTER YOUR TEAM NOW!

MENANG MELAWAN STRES DI TAHUN BARU

Selamat Tahun Baru kepada para pembaca. Semoga di dalam tahun baru ini Anda tetap sehat dan ceria. Bagi yang merayakan Tahun Baru Imlek, Gong Xi...

2021, the Year of Recovery

Selamat tahun baru 2021!!  Di awal tahun 2021 ini terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada umumnya, di awal...