/ˈfeməˌnizəm/ adalah cara untuk mengucapkan kata feminism. Apa sebenernya arti dari istilah yang tak asing lagi itu? Apakah feminism menyiratkan kebencian pada kaum lelaki? Apakah feminism menyimpan dendam akan makeup. Apakah feminism adalah sesuatu yang hanya dianuti oleh kaum hawa? Bukan, bukan dan bukan, arti dari feminism bukanlah semua hal itu. Feminisme adalah sebuah ideologi yang menjunjung tinggi kesetaraan hak asasi manusia diantara kedua gender baik laki-laki maupun perempuan.

Kesetaraan gender telah sejak lama diadvokasikan oleh berbagai tokoh dunia. Gerakan feminsme yang tergolong paling awal adalah ketika dalam salah satu filosofi klasiknya yang berjudul Republic, Plato menganjurkan bahwa kaum wanita memiliki “kemampuan alami” yang setara dengan pria untuk memimpin dan mempertahankan Yunani kuno, yang tidak semua orang sepakati. Setelah itu pada abad ke-15, seorang penulis dengan nama Christine de Pizan menulis protesnya mengenai misogyny dan peran wanita pada abad pertengahan dalam bukunya yang ia beri judul The Book of the City of Ladies. Di Indonesia, tanah yang kaya akan keanekaragaman, lahirnya emansipasi wanita merekah oleh karena begitu banyaknya pahlawan wanita di Tanah Air:

  • Siti Aisyah We Tenriolle

Tokoh kelahiran Bugis ini adalah datu atau ratu dari Kerajaan Tanete yang kini dikenal dengan nama Barru, Sulawesi Selatan tahun 1855. Siti Aisyah bukan hanya cerdas dalam bidang sastra akan epos-epos terjemahannya, ia juga piawai dalam bidang pemerintahan serta pendidikan pada saat itu dengan mendirikan sekolah baik untuk laki-laki dan perempuan.

  • Maria Yosephine Walanda Maramis

Wanita asal Minahasa ini memiliki pengetahuan yang luas dari pergaulannya dengan banyak orang terpelajar yang membuatnya berangan-angan untuk memajukan kehidupan wanita Minahasa untuk tidak hanya mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Ia lalu menikahi seorang guru dan bersama sang suami, Maria Yosephine mendirikan sebuah organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya yang merupakan sekolah rumah tangga yang mendidik anak-anak perempuan.

  • Dewi Sartika

Nyi Raden Rajapermans, ibu dari Dewi Sartika ini melanggar adat karena mengizinkan putrinya untuk mengenyam pendidikan di sekolah Belanda. Lantaran atas pendidikannya yang telah lebih maju, wanita yang dilahirkan di tanah Sunda ini mulai mengajar kaum perempuan di daerahnya dan pada akhirnya mendirikan Sakola Istria atau Sekolah Perempuan sejak 16 Januari 1904.

  • H. R. Rasuna Said

Di masa kecilnya, Rasuna Said merupakan satu-satunya santri perempuan yang berjuang membela kaum wanita di komunitasnya dengan mengajar di Diniyah Putri. Tetapi melalui jalur politik juga ia bergabung di dalam Sarekat Rakyat dan Persatuan Muslimin Indonesia.

  • Raden Adjeng Kartini

Wanita yang lahir di dalam kalangan priyayi dan diperbolehkan untuk bersekolah di Europese Lagere School hingga usia 12 tahun dimana ia harus tinggal di rumah untuk dipingit. Kartini banyak berteman dengan orang-orang dari luar negeri sehingga membuatnya memiliki pemikiran seperti perempuan barat. Semua ini memicu lebih kuat hasratnya untuk mengedukasi wanita-wanita Indonesia akan ilmu pengetahuan yang ia ketahui. Perhatian Kartini akan emansipasi wanita juga merangkul masalah sosial perempuan-perempuan Indonesia untuk memiliki kebebasan yang setara dengan kaum laki-laki.

Seiring berkembangnya masa Orde Lama, Presiden Soekarno memberikan kesempatan bagi gerakan-gerakan feminism di Indonesia untuk mendapatkan pengajaran akan keperempuanan dan perjuangan kepada kaum perempuan. Pada masa itu pula, berdirilah sebuah organisasi wanita progresif yang menyuarakan isu-isu yang dialami oleh banyak perempuan di Indonesia yang dinamakan Gerwani. Gerwani pun ikut serta berperan dalam bidang politik di masa itu untuk menjembatani antara politik dan kebutuhan sosial perempuan. Organisasi ini berslogan : sukseskan pemilu, anti perkosaan, peningkatan kesadaran perempuan tani, berantas buta huruf, hukuman berat bagi pemerkosa dan penculikan, kegiatan sosek bagi kaum perempuan, pendidikan masalah politik, kesehatan, dan monogami.

Namun, ketika Indonesia membuka lembaran Orde Baru, gerakan perempuan dengan sengaja disingkirkan. Kaum wanita kembali mendapatkan citra semata-mata sebagai ibu rumah tangga dan istri yang hidup bagi kepentingan suaminya. Pada masa itulah femisme bukan lagi sekedar wacana tetapi sebagai suatu mimpi yang telah termanifestasikan melalui beberapa langkah yang diambil oleh kaum wanita Indonesia untuk menentang stigma bahwa suara perempuan dinomor-duakan.

Dalam masa pengekangan tersebut, satu-satunya cara untuk menghidupkan organisasi-organisasi wanita Indonesia adalah untuk tidak berdiri secara independen seperti Dharma Wanita, Dharma Pertiwi, serta organisasi PKK. Tetapi kala itu organisasi-organisasi wanita tidak bisa jauh dari polit, menentang pelecehan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan, kegiatan yang lebih banyak memusatkan fokus terhadap kepentingan suami, dan dukungan terhadap birokrasi militer.

Era reformasi membuka pintu terhadap demokrasi ke dalam kehidupan Bangsa Indonesia. Di tengah hiruk piruk ini, bangkitlah kembali organisasi-organisasi wanita yang memberikan kembali hidup terhadap para reformis wanita seperti abad 30 yang tidak hanya membela kaum wanita, melainkan juga nasib masyarakat marjinal, beberapa organisasi LSM yang membela rakyat kecil – seperti Wardah Hafiz, sebuah kelompok perempuan yang membela hak anak, Ratna Sarumpaet yang memperjuangkan demokrasi dan hak buruh perempuan melalui organisasi teaternya Nursyahbani Kacasungkana yang membela wanita dari obyek kekerasan dan kejahatan melalui supremasi hukum.

Hingga saat ini, gerakan feminism terus hidup untuk menciptakan sebuah hubungan antar sesama manusia yang lebih baik dan adil. Gerakan feminism tidak bertujuan untuk menyerang laki-laki tetapi sebuah aksi perlawanan terhadap ketidakadilan dalam sistem patriarki yang secara mayoritas dianuti Indonesia. Gerakan ini bergerak untuk menghapuskan segala bentuk ketidakadilan, penindasan, dominasi, dan diskriminasi di dalam sistem yang berlaku di masyarakat.

Pada detik ini, masyarakat Indonesia terlihat telah berhasil dalam menanamkan kesadarakan akan masalah-masalah yang dialami oleh perempuan dan mengenai self-empowerment. Tetapi, sayangnya kebebasan ini tidak merata bagi seluruh masyarakat tidak hanya wanita di Indonesia yang terikat oleh ‘kodrat’ keyakinan dan adat. Pada saat ini, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita sebagai sebagai sesama manusia memberikan tangan kita bagi mereka yang membutuhan pertolongan kita dan membebaskan dari apa pun yang mengekang mereka untuk merasakan kebebasan mereka untuk live their lives to the fullest.

Bintang

Berbagai sumber