Malam itu di salah satu bangunan terbaru yang dibangun di Monash University, yaitu Jazz Club di Ian Potter Center for Performing Arts, dipenuhi dengan tamu yang berseliweran di ruangan itu, terdengar tabuhan gendang sebagai latar musik yang menyambut tiap hadirin. Pembaca BUSET yang belajar bidang musik Sir Zelman Cowen School of Music di Monash University tentu tidak asing dengan nama yang satu ini, yaitu Profesor Margaret Kartomi AM.

Prof. Margaret Kartomi yang sudah malang melintang di ethnomusicology selama 50 tahun

Acara kali ini merupakan malam penghormatan kepada Profesor Margaret Kartomi atas setiap prestasi dan kontribusi yang telah beliau ukir selama 50 tahun di bidang ethnomusicology Monash University. Acara dibuka oleh sambutan  Profesor Cat Hope, selaku MC perayaan malam itu. Suasana musik tradisional sungguh kental dalam acara ini, karena setiap penonton dapat menikmati beberapa penampilan musik dari rekanan di Monash antara lain dari Kacapi Suling Melbourne dengan Rahyan Sudrajat dan Ria Soemarjo, lalu penampilan Guzheng Music dari Nalanda Robson, serta grup perkusi Kendangers dari Pandan (Paguyuban Pasundan Victoria).

Prestasi Ibu Margaret di bidang ethnomusicology telah menjembatani hubungan antara Indonesia dan Australia dengan menghadirkan beberapa alat musik tradisional Indonesia ke Monash untuk menjadi bahan kurikulum pembelajaran dan riset.

“Margaret di luar dan dalamnya sendiri adalah sosok New Colombo Plan untuk Monash University,” sebut seorang rekan dalam video yang ditampilkan. Ucapan yang dipersembahkan malam itu menekankan bahwa beliau bukan hanya aktif dalam bidang riset saja tapi juga tidak segan melayani murid, dan para akademisi baru yang menghampirinya.

Sambutan yang berseliweran dalam bentuk video menggambarkan sesosok Margaret Kartomi sebagai seorang panutan, mentor, teman yang mencintai Indonesia dan menjadi advokat untuk budaya Indonesia dan Melayu. Dengan segala usaha yang telah ia jalani dalam bidang riset, mulai dari pergi ke pedalaman, Margaret telah menjadi tokoh yang menghargai keberagaman dan budaya.

Selama 50 tahun, Margaret mengalami perkembangan karier yang sangat pesat, sebut Sharon Pickering, dekan Faculty of Arts di Monash University. “Seringkali saya mendapat pertanyaan dari petugas bea cukai Australia yang melaporkan tentang barang ‘aneh’ yang pengirimannya sudah ditandatangani dengan nama saya. Selidik demi selidik, ternyata barang aneh tersebut merupakan pesanan Profesor Kartomi,” kenang Sharon, disambut dengan canda tawa dari para hadirin. “Saya ingin menghargai dampak dari koleksi [alat musik] yang sudah mendukung peleburan budaya di kampus Monash University. Margaret dan MAMU telah memberi kontribusi dengan Monash dan banyak komunitas di luar,” bagi Sharon, pengetahuan seorang Margaret Kartomi telah melampaui musik, karena beliau juga memajukan hubungan sosial politik dengan Indonesia dengan musik. Segala karya, kerjasama Indonesia dan Monash University adalah bentuk kerja Margaret dan rekan lainnya yang menjadi ambassador dari Monash University Faculty of Arts dan Humanities. We are proud of you,” tutup Sharon.

Tak kurang dari 100 undangan hadir untuk memberikan apresiasi

“Dalam pernikahan, 50 tahun merupakan tahun yang emas. Untuk seseorang, 50 tahun adalah hal yang luar biasa, saya percaya Margaret telah mengubah banyak sekali hal di Monash University dan yang pasti, penghargaan bukanlah tujuan utamanya,” sebut Konjen Spica dalam pidato singkatnya. Beliau berharap agar banyak Margaret lain yang dihasilkan dalam 50 tahun karya Profesor Margaret. “Bagi Indonesia, Margaret adalah seorang teman dekat yang terkasih.”

Margaret pun sempat bercerita singkat tentang pengalaman risetnya di Sumatera. Pernikahannya dengan Hidris Kartomi menjadi awal mula ia meneliti seni di provinsi Sumatera, tempat mereka berdomisili beberapa lama di sekitar hutan sebelum kembali ke Australia. Ia mengucapkan rasa terimakasih kepada rekan, keluarga MAMU (Music Archive of Monash University) dan seluruh hadirin. “The core duty of music is to connect people,” ungkapnya. Dalam pidatonya, ia juga menunjukkan terbitan buku karyanya yang paling baru dicetak minggu itu. Harapan Margaret adalah untuk menyelesaikan tulisan tentang seluruh provinsi Sumatera. “I aspire to inspire before I expire,” tutupnya disambut dengan tepuk tangan hadirin.


Apa Kata Mereka

Rubby, Cepi, Ragil dari Kendangers Pandan

Bu Margaret punya peran penting lewat musik dan budaya, semoga ada penerus bu Margaret. Untuk Bu Margaret pesannya adalah “keep doing it and hopefully transfer it to future generation”.

Maryrose Casey dari Monash Indigenous Studies Center

I have known Margaret ever since I first arrived at Monash which is about twelve years ago, and have always been in awe of her, more in terms of how she can negotiate universities, and she always does it in a very gracious and generous way that is always caring of all she creates. More of the same please, we don’t want to lose her, she is brilliant!

Indra dan Ghea

Kami dari UGM Yogyakarta, dan kenal Bu Margaret sejak dua tahun terakhir terutama terkait dengan riset kami tentang alat musik dari Wonosobo, namanya Bundengan. Kami merasa sangat beruntung bisa kenal dengan Bu Margaret karena beliau adalah seorang dari MAMU yang membawa Bundengan tersebut ke sini, ketika kami belum tahu Bundengan malah justru belajar dari Bu Margaret dan senang memiliki kesempatan untuk kenal dengan beliau yang pikirannya terbuka karena kami background nya dari fakultas teknik dan beliau mau bekerjasama. Dia sangat mendukung untuk ide riset, dan berkolaborasi dari teknik ke bidang musik ini jarang dan beliau merasa terbuka atas ide-ide tersebut dan ini adalah hal yang baik agar kami lebih percaya diri.

Adisa