Pertengahan Desember kemarin Melbourne berperan sebagai tuan rumah bagi seorang seniman besar Indonesia. Sebagai produser dan sutradara yang telah aktif di dunia perfilman Indonesia semenjak lebih dari tiga dasawarsa yang lalu, tak ayal sejumlah karya unggulan telah ia hasilkan. Beberapa yang mungkin sudah tidak asing lagi adalah ‘Daun di Atas Bantal’ dan ‘Opera Jawa’. Sosok ini juga sudah tidak asing lagi di kancah perfilman internasional. Keberhasilannya dalam meraih perhatian dunia diawali dengan lahirnya ‘Surat untuk Bidadari’ di tahun 1992. Ia adalah Garin Nugroho.

Seorang pelopor di bidangnya, hasil karyanya selalu unik dari satu dengan yang lainnya. Hal ini juga tercermin dalam ciptaannya yang membawanya datang ke Melbourne pada kesempatan ini. Karya orisinil yang alur ceritanya ia tulis sendiri ini bertajuk ‘Satan Jawa’ dan merupakan sebuah film bisu.

Kehadirannya di Kota Melbourne kali ini bertujuan untuk mengamati latihan kolaborasi dengan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) sebagai bagian dari festival Asia TOPA (Asia-Pacific Triennial of Performing Arts) yang akan digelar Februari 2017 mendatang.

Garin akan menghadirkan pemutaran film ‘Satan Jawa’ yang diiringi dengan live performance oleh MSO dan juga orkestra gamelan Jawa. Proses rehearsal berlangsung cukup lancar dan sangat mempesona. Tampak pula di hari itu adalah Peni Candrarini sebagai soloist yang tampil dengan pakaian batik berkilauan. Meski baru dalam tahap latihan atau rehearsal, penampilannya yang profesional didukung penuh dengan ekspresi wajah yang begitu meyakinkan dan suara merdu namun menyayat hati. Sungguh menyentuh hati siapapun yang mendengarnya.

Keterlibatan Garin dengan AsiaTOPA diawali ketika ia mengemukakan konsep film bisu hitam putih yang didalanginya dengan diiringi gabungan orkestra musik barat dan orkestra gamelan. Ide yang sangat menarik ini ditanggapi secara sangat positif oleh Arts Centre Melbourne dan AsiaTOPA sebagai suatu hal yang baru, bukan hanya di Indonesia namun juga di panggung seni dunia.

Terinspirasi dari tradisi lisan Jawa, cerita pesugihan kandang bubrah memiliki pengaruh dominan dalam penulisan skenario ‘Satan Jawa’ oleh Garin. Selama kurang lebih dua tahun semenjak pencetusan ide, Garin menggodok skenario ‘Satan Jawa’ hingga akhirnya rampung. Keterbatasan dana yang tersedia juga bukanlah sebuah halangan bagi seniman seperti Garin. Syuting film berdurasi 70 menit dirampungkannya dalam jangka waktu hanya enam hari!

Penampilan sudah memukau bahkan saat gladi resik
Penampilan sudah memukau bahkan saat gladi resik

Melalui komposer Rahayu Supanggah, Garin dengan mudah dapat merangkul para penari terbaik Solo untuk berperan dalam film bisu ini. Luluk Ari, Heru Purwanto dan Asmara Abigail adalah para penari beruntung yang berhasil lolos seleksi ketat untuk Setan Jawa ini. Keahlian mereka dalam mengolah karakter betul-betul terlihat jelas dalam penayangan ‘Satan Jawa’ ketika rehearsal hari itu.

Nama Rahayu Supanggah pun pasti tidak asing lagi di telinga kita. Ya, beliau dan Garin adalah tim tangguh di balik pembuatan ‘Opera’ Jawa sekitar sepuluh yang lalu. Bersama, mereka telah menghasilkan satu buah film dan tiga produksi teater semenjak terlahirnya ‘Opera Jawa’ pada tahun 2006.

Menurut komposer yang akrab dipanggil Panggah ini, gamelan adalah jenis musik yang sangat terbuka. Dalam artian segala bentuk kolaborasi dengan berbagai macam genre musik, seperti jazz, kuartet, dan elektronik, sudah pernah dilakoni. Namun kolaborasi antar kedua raksasa orkestra dunia ini merupakan sebuah tantangan yang baru. Dalam kesempatan ini, Panggah berkesempatan untuk bekerja sama dengan Iain Grandage dari MSO.

Ruang teater yang akan menjadi tuan rumah ‘Satan Jawa’
Ruang teater yang akan menjadi tuan rumah ‘Satan Jawa’

Keterbukaan antar budaya yang berbeda diyakini oleh Panggah sebagai salah satu hal terpenting dalam kerjasamanya dengan MSO. Rasa saling menghormati antar karya seni yang berbeda akan sangat mendukung keberhasilan sebuah kolaborasi dan hal tersebutlah yang sangat ia apresiasi dari rekannya, Iain Grandage.

Penulis bersama Garin (kiri) dan Rahayu Supanggah
Penulis bersama Garin (kiri) dan Rahayu Supanggah

‘Satan Jawa’ tentunya adalah sebuah karya yang sangat istimewa. Meski seolah-olah kembali ke masa lampau dengan penggunaan teknik film bisu, namun sebenarnya justru melompat ke depan dengan adanya kerjasama dengan berbagai macam seni yang lain. Keistimewaan dari pertunjukan ‘Satan Jawa’ ini dengan sengaja diracik sebagai puncak karir Garin yang telah mencapai tahun ke-35.

Setelah menghiasi AsiaTOPA di Melbourne di bulan Februari nanti, penayangan ‘Satan Jawa’ juga akan diboyong ke berbagai negara lain. Amsterdam, Esplanade di Singapura dan Zurich sudah termasuk di dalam jadwal mereka. Di sana mereka akan bekerja sama dengan orkestra simfoni setempat.

BUSET-Satan Jawa

ishie

Penasaran kan dengan hasil karya seniman besar Indonesia seperti Garin Nugroho dan Rahayu Supanggah yang meluncurkan perfilman Indonesia di mata internasional?

‘Satan Jawa’ akan tampil di Hamer Hall, Arts Centre Melbourne pada tanggal 24 Februari 2017. Untuk informasi lebih lanjut dan pembelian tiket Satan Jawa, kunjungilah situs-situs berikut:

www.asiatopa.com.au/events/satan-jawa
www.mso.com.au/whats-on/2017/asia-topa-satan-jawa/

FREE 2 DOUBLE PASSES 

How?
Answer this question: WHEN AND WHERE ‘SATAN JAWA’ WILL BE PERFORMED?
Email your answer along with your full name, contact no, and suburb to info(at)buset-online(dot)com the latest by 12 February 2017

2 winners will be contacted on 13 February 2017
Each winner will get a set of double pass (2 tix) to see ‘Satan Jawa’

 

** CONGRATULATIONS TO WINNERS: **
Fransiska R of Kew
Lily F of Pascoe Vale

1 COMMENT

Comments are closed.