NINA KHAIRINA PERJUANGKAN HAK PELAJAR INTERNASIONAL

0
727

TIDAK BERENCANA IKUT ORGANISASI DAN SEMPAT DIDISKRIMINASI,
NINA KHAIRINA BANGKIT PERJUANGKAN HAK PELAJAR INTERNASIONAL

Mustika Indah Khairina, akrab disapa Nina, tadinya tidak berencana mendaftar untuk menerima penghargaan Victorian International Student Awards 2015 – sebuah inisiatif pemerintah Victoria sebagai bentuk dukungan terhadap pelajar mancanegara. Tak disangka, justru pendaftaran yang dilakukan last minute tersebut membawanya sebagai satu-satunya orang Indonesia yang berhasil menjadi finalis penghargaan bergengsi tersebut tahun ini. Meski belum berhasil tampil sebagai pemenang, pengalaman dan hasil kerjanya bagi komunitas pelajar internasional telah menjadi kebanggaan tersendiri.

Sama seperti perjalanannya hingga menjadi finalis penerima Victorian International Student Awards 2015, mahasiswi Monash University ini pun tak mengira dirinya akan terlibat dan aktif dalam kepengurusan berbagai organisasi, diantaranya Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) cabang Victoria, menjadi Presiden Monash University International Students Service (MUISS) serta menjadi Presiden Council of International Student Australia (CISA). Justru pengalaman yang tak terencana ini mampu membuka matanya untuk menjadi salah satu advokat terbesar bagi pelajar internasional di Australia.

Pada awalnya, Nina sempat menjauhbahkan menghindar – dari keterlibatan organisasi Indonesia dengan alasan aktivitas-aktivitas tersebut mampu dilakukannya di Indonesia. Nina berpendapat selagi merantau di negeri asing, ada baiknya agar ia bisa melakukan hal-hal lain yang tidak dapat ditemui di Tanah Air. “Namun, aku kemudian ikut Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) PPIA Victoria sehingga membuatku tertarik ikut dalam PPIA Victoria,” jelasnya. Dan memang, berperan aktif dalam sebuah organisasi merupakan passion tersendiri bagi dara manis ini.

Nina mulai menemukan panggilannya dalam komunitas pelajar internasional saat bergabung dengan MUISS. “Keikutsertaanku dalam MUISS juga sangat random. Aku mendaftar di hari terakhir setelah direkomendasikan oleh teman,” ucap Nina sambil tertawa, “little that I know, I fall in love with MUISS”.

Selama menjalani jabatannya sebagai Presiden MUISS tahun 2015, Nina dihadapkan dengan kisah kesulitan yang dialami oleh banyak pelajar internasional – sesuatu yang sebelumnya tak ia ketahui karena kondisinya sebagai pelajar tergolong baik. “MUISS benar-benar membuka mataku. Ternyata banyak siswa yang mengalami masalah-masalah seperti kesulitan berbahasa, dieksploitasi di tempat kerja, dan banyak lagi. I can really empathise with them,” paparnya. Keadaan seperti ini sedikit banyak juga telah mendewasakan cara berpikirnya.

Sebelum usai masa kerja di MUISS, Nina tergabung dalam kepengurusan CISA – kembali, secara tiba-tiba. “Aku dibujuk untuk maju sebagai presiden CISA saat datang ke CISA Conference pada Juli 2015 di Melbourne,” kata mahasiswi jurusan Asian Studies tersebut, “tadinya aku enggan untuk masuk karena masih menjadi presiden MUISS.” Akan tetapi, adanya dorongan dan kepercayaan dari orang di sekitarnya membuat Nina berani untuk maju sebagai Presiden CISA. “Saat bilang aku masih sibuk dengan MUISS, ada seseorang yang bilang, ‘you have a lot to contribute, but you don’t have much to offer yet. But if you join CISA, you can contribute even more in the future’,” kenang Nina.

Nina menganggap kesempatannya untuk menang sangatlah kecil. “I applied on the last day dan setelah election aku sebenarnya harus balik ke Indonesia jadi I really thought I didn’t have a high chance of winning… Sesaat sebelum aku mau boarding, tiba-tiba ada yang menelepon, ‘Nina, you won!’,” kisahnya. Keputusan tersebut membawa Nina sebagai Presiden CISA pertama yang sebelumnya tidak tergabung dalam organisasi tersebut.

Sejak keikutsertaannya dalam CISA, Nina sempat merasa kebingungan. Namun, CISA yang merupakan badan nasional untuk pelajar internasional mampu membuka berbagai kesempatan yang sebelumnya tak disadari Nina. “Meskipun CISA belum dikenal luas, tapi seluruh badan pemerintah dan sektor pendidikan internasional tahu keberadaan CISA. Jadi, kita selalu dikontak dan dilibatkan oleh pemerintah terutama tentang kebijakan yang berkaitan dengan pelajar mancanegara.”

Sebagai Presiden CISA, Nina kerap diundang menghadiri aneka macam seminar atau sosialisasi yang diusung Pemerintah Australia. Gadis belia ini pun menjadi sering bertemu dengan berbagai menteri, serta memberikan pidato di depan pihak-pihak penting dalam industri pendidikan. Salah satu pencapaian terbesar CISA pada kepengurusan lalu adalah keberadaan Post Graduate Visa bagi mahasiswa internasional.

Meskipun sibuk, memegang posisi penting dalam sebuah organisasi nasional telah menyadarkan Nina akan kenyataan di balik institusi pendidikan Australia yang masih terjadi. “Banyak sekali kasus eksploitasi mahasiswa internasional di tempat kerja,” tegas Nina, “bayaran rendah dan kerja melebihi batas yang legal, namun ini semua belum pernah benar-benar ditindaklanjuti oleh pemerintah Australia.” Ada pula kasus kecurangan akademik dengan membayar pihak tertentu untuk mengerjakan tugas (contract cheating) atau keberadaan institusi-institusi fiktif yang mampu mengeluarkan sertifikat sebagai ganti bayaran yang cukup tinggi. Hal inilah yang berusaha diperbaiki oleh Nina beserta timnya di CISA. “Kami ingin mendorong pemerintah Australia untuk benar-benar berkomitmen mengatasi berbagai kasus eksploitasi ini,” tegas sang pimpinan.

Secara personal, Nina mengaku pernah mengalami perilaku diskriminasi terhadap dirinya karena selalu berbusana Muslim. “Ada suatu masa mental health-ku menjadi sangat terganggu karena kasus-kasus ini terjadi secara beruntun,” kenang Nina. “Suatu kali, aku makan di sebuah restoran keluarga dan seorang bapak memandangiku dengan tajam sepanjang aku makan.” Pengalaman pahit tersebut berlanjut saat Nina sedang menunggu kereta di suatu stasiun pada malam hari. Kala itu sekelompok pemuda mabuk mulai bercemooh, “do you smell any Muslim?” dan ejekan diskriminatif lainnya di depan Nina. “How am I not scared? Ada banyak orang di situ, but no one stood up,” kata siswi berhijab tersebut.

Nina kemudian memberanikan diri melaporkan pengalaman pahitnya kepada dosen di kampusnya. Berangkat dari sini, muncul ide untuk memulai inisiatif bersama Victorian Police. “Kita mengadakan sesi interaktif dengan masyarakat Muslim tentang bagaimana cara menghadapi Islamophobia di tempat umum. Kami bahkan mengadakan diskusi dengan pihak pemerintah soal Islamophobia dan apa yang bisa dilakukan.” Belakangan ini, menurut Nina, dirinya merasa sudah lebih banyak toleransi dari masyarakat Melbourne sekarang.

Melalui jabatannya, Nina bertekad untuk membawa perubahan positif bagi kehidupan banyak orang. Kegigihan Nina tentu dapat dijadikan teladan bagi kita semua.

 

flase
foto: koleksi pribadi