Mukhamad Misbakhun, ingin dikenal sebagai orang baik

0
929

 

Mukhamad Misbakhun merupakan anggota DPR fraksi IX dari partai Golkar yang namanya seringkali disangkut-pautkan dengan kasus Century yang sampai saat ini belum rampung. Usaha dalam membongkar kasus yang penuh dengan implikasi politik itu membuatnya justru masuk ke dalam penjara selama 16 bulan atas tuduhan pemalsuan Letter of Credit. Kini namanya telah bersih kembali setelah Mahkamah Agung menyatakan dirinya tidak bersalah. Pengalaman semasa dipenjara dianggap Misbakhun sebagai salah satu fase terpenting dalam hidupnya karena telah memberinya banyak pembelajaran.

Memang dari kecil, ayah dari empat anak ini senang membaca dan selalu ingin melebarkan wawasannya. Beberapa buku yang disukainya adalah Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno dan buku-buku karya Mochtar Lubis yang pernah dipenjara sebagai pihak oposisi kepemerintahan Soekarno. Misbakhun lahir di Pasuruan dari keluarga yang sangat sederhana. Kedua orang tuanya berpisah sehingga beliau tumbuh di bawah asuhan nenek dan kerabat lainnya. Oleh karena kondisi yang demikian, dirinya memutuskan untuk menjadi orang yang pintar agar dapat dipandang masyarakat. Hal ini pun diwujudkannya dalam prestasi-prestasi yang diraihnya sebagai murid saat bersekolah. Pada tahun 1989, berkat jerih payahnya tersebut Misbakhun menerima beasiswa STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) yang akhirnya menjadi awal karirnya menjadi seorang pegawai negri sipil.

Pekerjaan sebagai auditor di bawah kementrian keuangan dijalaninya selama 15 tahun. Setelah melakukan pengabdian panjang yang membuat koneksi dan pengetahuannya semakin terbuka, Misbakhun lalu memutuskan untuk banting setir menjadi pebisnis rumput laut. Walau sempat mengalami kerugian, keseriusan dan kegigihan kemudian membuat bisnisnya meraih kesuksesan bersama dengan sang rekan saat itu yang berasal dari Benua Eropa. Misbakhun juga percaya bahwa keberhasilan datang karena tidak pernah hilangnya niat berbuat baik, sehingga banyak orang yang rela menolong di saat sulit. Keuntungan dari bisnis mampu membuatnya menikmati hidup yang nyaman sambil berkesempatan untuk menyediakan lapangan kerja dan bersedekah. Namun rupanya, semua ini belum cukup bagi seorang Misbakhun.

“Ada karya yang lebih besar, yaitu mind, waktu dan getaran hati, sehingga kita memikirkan hal yang lebih besar, yaitu memasuki dunia politik untuk memberi sumbangsih kepada masyarakat.”

Gagasan mulia ini direalisasikannya dengan mencalonkan diri ke kursi DPR RI di Jawa Timur melalui partai PKS. Karena banyak ketidakpercayaan masayrakat terhadap calon DPR, maka Misbakhun menciptakan slogan terobosan yang menjadi basis kampanyenya, yaitu “Demi Allah, saya akan serahkan 100 persen gaji pokok saya di DPR bila saya terpilih.” Hal ini terbukti berhasil saat dirinya mendapat kursi di DPR fraksi IX. Realisasi dari janjinya adalah dengan memberikan data transparan melalui koran lokal mengenai seluruh gaji yang diberikannya kembali ke masyarakat. Kepercayaan dan nilai yang telah dibangun Misbakhun di tengah masyarakat inilah yang lalu berdampak sehingga dirinya terpilih lagi menduduki kursi DPR tahun 2014.

Tidak tanggung-tanggung, di awal pengalamannya sebagai politisi, pria yang baru berusia 39 tahun saat menjabat di DPR ini langsung mengungkapkan permasalahan Bank Century dan mengusulkan hak angket. Dengan latar belakang akuntan dan auditor forensik, Misbakhun memiliki kemampuan untuk mengubah persoalan yang rumit menjadi dapat mudah dimengerti banyak orang. Inilah yang membuat kemampuannya sangat berharga dalam pengungkapan kasus Century.

“Politik itu ibarat berbalas pantun. Begitu kita serang, maka kita harus siap diserang balik.” Ucapan Misbakhun ini sungguh menggambarkan keadaannya saat berhadapan dengan kasus tersebut. Saat dituding memalsukan Letter of Credit, beliau tidak memiliki cukup resistensi baik dari sisi pribadi maupun dari partai yang menaunginya saat itu. Akhirnya Misbakhun harus menjalani penjara selama 1 tahun di Bareskim dan kemudian selama hampir setengah tahun di Salemba. Alhasil, masa aktifnya di DPR saat itu hanya sekitar 8 bulan. Di dalam penjara inilah Misbakhun mengalami fase yang mengubah hidupnya sehingga lebih dapat menghargai hal-hal kecil dalam hidup dan memperkaya wawasan akan dunia politik.

Politisi yang mengidolakan Soekarno ini mengaku bahwa dirinya bisa saja menghindari penjara dengan berkompromi dan merahasiakan informasi, namun itu jalan yang enggan diambilnya. “Saya berpikir soal keluarga, justru itulah saya harus berjuang karena saya harus menjaga martabat keluarga.” Menurutnya, seseorang seringkali mengambil langkah yang tidak dapat dimengerti orang lain, tapi kita harus tetap mengambil jalan yang sesuai dengan keinginan dan getaran hati.

Akhir dari kasus Century saat ini belum juga diselesaikan akibat sisi politik yang melibatkan orang-orang besar. Menurut Misbakhun, semuanya ini tinggal melihat seberapa berani KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menuntaskan kasus yang sudah jelas dan lengkap semua barang buktinya. Tidak ada juga kompensasi dari negara atas tuduhan dan masa penjara dirinya yang telah dinilai tidak bersalah. Padahal, menurut beliau, memenjarakan orang yang tidak bersalah adalah penistaan paling besar dalam demokrasi, dan hal ini dilakukan oleh seorang pemimpin negara. “Kredo hukum itu adalah lebih baik membebaskan orang yang bersalah daripada memenjarakan orang yang tidak bersalah,” ujarnya lebih lanjut.

Bicara perihal RUU KPK, pria yang baru berumur 45 tahun ini menunjukkan dukungannya. Misbakhun percaya bahwa KPK perlu dilindungi dari serangan-serangan balasan yang dapat menghambat kinerjanya. Terutama dalam kasus ‘cicak vs buaya’, pertikaian antar lembaga negara dirasanya harus tuntas. Hal ini dapat diwujudkan dengan merombak ulang strategi KPK dengan memperbaiki struktur mekanisme kerja, terutama saat melakukan penyelidikan. KPK harus tetap bisa menjalankan tugasnya, namun di saat bersamaan harus menghormati kode hukum yang berbentuk konstitusi. Pria lulusan SMA 1 Pasuruan ini menambahkan bahwa draft RUU KPK yang saat ini beredar tidak sesuai dengan yang sebenarnya dibahas di DPR, sehingga seringkali membuat banyak pihak salah paham.

Saat ini banyak kasus yang seoalah-olah tenggelam begitu saja, padahal masyarakat dapat memaafkan tapi bukan berarti melupakan. Oleh karena itu, Bangsa Indonesia, menurut Misbakhun, sedang dibangun di atas sebuah fondasi yang penuh dengan sejarah kelam yang tidak terselesaikan. Padahal yang harus diberikan kepada generasi muda adalah masa depan yang bersih sehingga mereka tidak perlu lagi memikirkan permasalahan lampau. Presiden Jokowi dilihat oleh Misbakhun sebagai tokoh yang dapat diandalkan untuk mewujudkan hal tersebut di tengah masa transisi era reformasi ini.

“Presiden Jokowi adalah presiden yang tidak punya hutang sejarah kepada masyarakat. Kita memilih Jokowi karena memilih masa depan. Ini harusnya dapat dilihat oleh semua lembanga negara, bahwa inilah keinginan rakyat,” paparnya mantap.

Dalam masa transisi era reformasi yang telah berlangsung semenjak turunnya Soeharto pun, suami dari Eny Sulistijowati ini berharap negara tidak kehilangan jati dirinya, terutama nilai-nilai sebagai bangsa prularisme yang menyatukan semua warganya.

Sebelum mengakhiri wawancara bersama BUSET, terlontar pertanyaan mengenai sosok apa yang ingin dikenal bagi seorang Misbakhun? Jawaban yang diberikan sangat sederhana, yakni ingin dikenal sebagai orang yang baik. “Saya ingin dikenang akan apa yang saya lakukan dalam kebaikan, dan ingin memberi pengaruh bahwa kebaikan itu harus menjadi modal kita sebagai manusia,” tutupnya.

 

gaby