10 TAHUN SOUNDSEKERTA USUNG KONSEP KOLABORASI DAN LINTAS GENERASI

0
429

Bermula dari sebuah mimpi, menjadi sebuah pertunjukan spektakuler. Hanya itu lah yang dapat Andre katakan mengenai pertumbuhan Soundsekerta dari tahun ke tahun. Lelaki kelahiran Sukabumi ini adalah salah satu komiti PPIA Monash yang terus mengikuti dan mengamati Soundsekerta selama dua tahun terakhir.

Soundsekerta pertama kali hadir dalam bentuk sebuah pertunjukan talk show komedi pada tahun 2007 silam. Dan sejak itu telah rutin membawa keindahan budaya sekaligus menghibur dan menemani warga Indonesia, terutama para pelajar yang berada di tanah rantauan.

Tari Jaipong Hanareswara berhasil memikat hati penonton
Tari Jaipong Hanareswara berhasil memikat hati penonton

Memperingati satu dasawarsanya, Soundsekerta 2016 membawakan sebuah pertunjukan dahsyat dengan konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yakni melalui kerjasama lintas generasi. Soundsekerta 2016 pula memperkenalkan Dashvara sebagai maskot tahun ini. Dashvara sendiri diambil dari Bahasa Sansekerta dimana “dash” berarti sepuluh dan “svara” berartikan musik dan burung merak untuk menunjukkan keindahan sekaligus integritas event tahunan PPIA Monash ini.

Pihak panitia mengaku telah mempersiapkan Soundsekerta ‘A Decade To Remember’ dari konsep hingga pemilihan komite bahkan sejak akhir tahun 2015. Akhirnya disepakati untuk mengundang Kahitna dan GAC sebagai bintang tamu demi menghibur masyarakat dari berbagai kalangan. “Kami percaya GAC merupakan the new rising up guest star yang dapat menjangkau kalangan anak muda. Sedangkan Kahitna adalah band legendaris Indonesia yang juga dapat mengundang generasi yang lebih tua,” seru Project Manager Soundsekerta 2016 Jessen Tjandra.

Project Manager Soundsekerta 2016 Jessen Tjandra
Project Manager Soundsekerta 2016 Jessen Tjandra

Seperti pada tahun sebelumnya, Soundsekerta 2016 dibuka oleh penampilan dari sanggar tari yang berdomisili di Melbourne. Dengan gemulai, para penari membawakan tarian Jaipong Hanareswara sebelum akhirnya MC memanggil Parliamentary Secretary for Multicultural Affairs and Asia Engagement Hong Lim dan Konsul Jenderal RI untuk Victoria Dewi Savitri Wahab untuk memberikan kata sambutan. Keduanya menyebutkan kinerja seluruh tim yang patut dibanggakan atas kesuksesan Soundsekerta, bahkan menginjak tahun yang ke-10 ini Soundsekerta dirasa lebih baik dan profesional.

GAC membuka panggung hiburan di Melbourne Town Hall malam itu dengan menyanyikan tembang bertajuk Untuk Indonesia yang spontan membangkitkan suasana partiotisme setiap penonton yang hadir. Tiga penyanyi muda asal DKI Jakarta yang merintih karir mereka dari youtube itu hadir membawakan lagu-lagu cover dan beberapa tembang dari album baru mereka yang bertajuk “Stronger”. GAC sendiri merupakan singkatan dari nama personilnya, yakni Gamaliel, Audrey dan Cantika.

Tak ketinggalan, grup vokal yang dibentuk delapan tahun lalu ini pun mementaskan sebuah lagu yang berhasil melambungkan nama mereka. “Kita mau bawain lagu legendaris yang ga pernah kita lupakan,” seru Gamaliel. Lagu yang dimaksud adalah hits berjudul Mirror milik .,M.,M.M,         ,. lagu-lagu yang dibawakan Kahitna. Di sela-sela nyanyian, grup band yang telah berkarya selama 30 tahun ini aktif berinteraksi dengan penonton Soundsekerta, bahkan sempat memanggil salah seorang penonton untuk naik ke atas panggung. Seluruh isi ruangan menjadi gaduh ketika ketiga vokalis Hedi, Carlo dan Mario mencium penggemarnya itu. Para penggemar Kahitna, terutama dari kalangan wanita, sontak berteriak histeris menginginkan hal yang sama.

Penggemar yang beruntung mendapat kecupan dari vokalis Kahitna
Penggemar yang beruntung mendapat kecupan dari vokalis Kahitna

Kolaborasi antara pemusik Tanah Air yang diwakilkan oleh Kahitna dan GAC dengan pemusik yang berbasis di Australia terjadi di tengah dan akhir konser. Maha karya yang dihasilkan menjadi bukti nyata kepiawaian musisi-musisi Indonesia yang tak kalah dengan negara lainnya.

Menurut Jessen, kolarborasi bersama orkestra yang berbasis di Melbourne tersebut juga sengaja diciptakan untuk dapat melebarkan target audience Soundsekerta kepada warga lokal. Jadi, selain dapat menjadi obat rindu bagi masyarakat Indonesia, juga bisa memperkenalkannya kepada penonton yang berbeda budaya.

Keberhasilan ini seakan menggenapi harapan panitia Soundsekerta 2015 yang sempat mengatakan kepada BUSET melalui wawancara tahun lalu bahwa pihaknya berharap agar acara selanjutnya dapat menggabungkan musik kedua negara.

Dilihat dari jumlah pengunjung, Jessen mengatakan Soundsekerta tahun ini melebihi ekspektasi. “Memang mungkin jumlah penonton tidak mencapai tahun lalu, tetapi komite Soundsekerta sendiri sangat puas dan bangga karena sudah menggampai tujuan atau goal kami,” paparnya. Pihaknya juga berharap melalui konsep kolaborasi musisi ini dapat lebih mempererat hubungan kedua negara.

Penggemar yang beruntung mendapat kecupan dari vokalis Kahitna
Penggemar yang beruntung mendapat kecupan dari vokalis Kahitna

Sayangnya, ada sedikit kritikan dari para penonton dimana keseluruhan suara orkestra tidak dapat terdengar jelas. Menanggapi hal tersebut, Jessen menjelaskan bila “ini lebih ke technical issue. Selama latihan di studio semuanya oke banget, tapi pas di town hall, equipment system berbeda semua. Plus ini pertama kalinya kita ngebawa string orchestra, ternyata suaranya kalah dengan instrumen-instrumen lainnya seperti drum, gitar dan piano. Kita sendiri juga aware dengan kekurangan itu, maka dari itu kita jadikan pelajaran untuk Soundsekerta kedepannya lagi.” Kendati demikian, perlu diakui bila secara keseluruhan Soundsekerta 2016 telah menjadi bukti sukses dari kerja keras semua panitia serta berhasil menorehkan kenangan manis di hati para penontonnya.

 

 

** APA KATA MEREKA **

 

 

Alexander Livardi, mahasiswa RMIT University
Alexander Livardi, mahasiswa RMIT University

Soundsekerta pada tahun ini memiliki konsep yang unik dan gua suka banget, apalagi mereka mengkolaborasikan Melbourne Orchestra, itu bagus baget. Dengan menggabungkan seperti itu, dapat memperlihatkan diversity dalam konsep mereka. Apalagi gua cinta dan fans banget GAC. Kalau Kahitna ya jelas mereka adalah “sesepuh” musik Indonesia. Tapi yang buat gua kecewa adalah suara orkestranya kerendem dengan suara yang lain dan harusnya Soundsekerta juga sediain tempat untuk berdiri sama MCnya sih.

 

Stephanus Budiman, mahasiswa Melbourne University
Stephanus Budiman, mahasiswa Melbourne University

Jadi sebenarnya awalnya kan gua ga begitu tertarik karena ga begitu mengenal artisnya, tapi sehabis nonton gua senang banget karena tahun ini meraka menampilkan sebuah kolaborasi yang tahun-tahun lalu tidak pernah ada. Soundsekerta tahun ini juga unik banget karena ada Melbourne based Orchestra.

Tahun ini lebih intimate acaranya. Yang paling disayangkan adalah sound mixingnya kurang bagus, padahal gua berharap banget sama Melbourne Orchestra tapi suaranya kalah kencang sama musiknya. Mungkin untuk kedepannya acaranya lebih dirapihkan karena MCnya tadi kelamaan.

 

Dede Arijara Jacrut, Ketua Perwira (Perhimpunan Warga Indonesia di Victoria)
Dede Arijara Jacrut, Ketua Perwira (Perhimpunan Warga Indonesia di Victoria)

Kalo menurut saya, tiap tahun Soundsekerta selalu ada perbedaan karena bintang tamunyapun berbeda. Tetapi itu bukan masalah dikarenakan saya fans berat Soundsekerta, dari sisi acaranya sendiri. Jadi saya selalu menunggu-nunggu moment ini. Mudah-mudahan PPIA Monash tetap terus mengadakan acara ini karena kita sebagai penggemar setia untuk acara ini terus menunggu acara berikutnya.”

 

 

Nys